Chapnews – Nasional – Suasana haru menyelimuti Pelabuhan Marina Waterfront Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat keluarga korban kapal karam KM Putri Sakinah memantau langsung proses pencarian. Mereka hadir dengan harapan besar agar Fernando Martin Caceres, korban terakhir yang belum ditemukan, segera ditemukan pada hari ke-13 pencarian ini.
Sejak pagi, anggota keluarga korban terlihat berkumpul di area pelabuhan, dengan tatapan penuh harap melepas Tim SAR yang berlayar menuju lokasi pencarian. Mereka tak henti-hentinya memanjatkan doa dan menyampaikan keinginan agar Fernando dapat segera ditemukan, mengakhiri penantian panjang sejak kapal wisata itu tenggelam pada 26 Desember 2025 di perairan Pulau Padar, Taman Nasional Komodo (TNK).

Pencarian yang telah memasuki hari ke-13 ini dilakukan secara intensif oleh tim gabungan. Kepala Kantor SAR Maumere sekaligus Koordinator Misi SAR (SMC), Fathur Rahman, menjelaskan bahwa berbagai metode telah dikerahkan, mulai dari penyisiran di pulau-pulau terdekat, penggunaan teknologi sonar, hingga penyelaman di area bangkai kapal.
Upaya keras tim SAR membuahkan hasil pada hari ke-12 pencarian, Selasa (6/1) lalu, ketika satu jenazah berhasil ditemukan. Penemuan ini bermula dari laporan nelayan setempat dari Pulau Komodo yang menemukan puing-puing kapal yang diduga kuat merupakan bagian dari KM Putri Sakinah. Setelah puing ditarik ke darat dan tercium bau menyengat, tim akhirnya menemukan jenazah di dalamnya.
Kabid Humas Kepolisian Daerah NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra, mengonfirmasi bahwa jenazah yang ditemukan adalah seorang anak laki-laki warga negara Spanyol berusia 10 tahun. Proses identifikasi dilakukan secara profesional oleh Tim DVI yang bekerja sama dengan tim medis dari Rumah Sakit Regional Komodo. Identitas korban dikonfirmasi melalui pemeriksaan forensik, perbandingan data medis, serta karakteristik ontologi primer, termasuk adanya gigi palsu di gerahamnya. Kombes Henry menekankan bahwa seluruh prosedur identifikasi dijalankan dengan standar kemanusiaan internasional, mengingat korban adalah anak-anak dan warga negara asing.



