Chapnews – Ekonomi – Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan tajam, memicu kekhawatiran serius akan daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional. Pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026), mata uang Garuda terpantau merosot 27 poin, mencapai level Rp17.963 per dolar AS. Angka ini menandai pelemahan sebesar 0,15% dibandingkan hari sebelumnya yang berada di Rp17.936. Situasi ini diperkirakan akan berdampak langsung pada kenaikan harga berbagai komoditas, membuat kantong konsumen semakin tercekik.
Depresiasi Rupiah ini bukan sekadar angka di pasar valuta asing, melainkan sebuah realitas pahit yang langsung terasa di meja makan keluarga Indonesia. Kenaikan harga barang kebutuhan pokok berbasis impor menjadi tak terhindarkan, mulai dari bahan pangan hingga produk konsumsi lainnya. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, M. Faisal, menegaskan bahwa fenomena ini secara langsung menggerus daya beli masyarakat.

"Karena Rupiah lebih lemah, maka artinya barang-barang impor yang masuk dan dikonsumsi masyarakat menjadi lebih mahal secara otomatis," kata Faisal kepada chapnews.id, Jakarta, Sabtu (25/7/2026). Ia menambahkan, ketergantungan tinggi Indonesia pada impor bahan pangan esensial seperti gandum yang hampir 100%, kedelai sekitar 90%, dan bawang putih yang juga mendekati 100%, akan memicu lonjakan inflasi di tingkat konsumen. Tak hanya itu, kapas sebagai bahan baku utama industri tekstil juga mayoritas diimpor, menambah daftar panjang komoditas yang harganya akan melambung.
Dampak pelemahan Rupiah tidak berhenti di dapur rumah tangga. Sektor industri manufaktur dalam negeri juga merasakan pukulan telak. Biaya operasional produksi membengkak signifikan akibat melonjaknya harga bahan baku impor. Faisal menjelaskan, industri farmasi dan obat-obatan merupakan salah satu sektor yang paling terpukul karena persentase kandungan impornya sangat tinggi. Disusul oleh industri tekstil yang masih sangat bergantung pada impor kapas, serta industri makanan dan minuman yang juga banyak menggunakan bahan baku dari luar negeri. Pembengkakan biaya ini pada akhirnya dapat diteruskan ke harga jual produk, membebani konsumen lebih lanjut, atau menekan margin keuntungan produsen.
Selain itu, beban pembayaran utang valuta asing juga dipastikan akan meningkat, menambah kompleksitas tantangan ekonomi yang dihadapi negara. Situasi ini menuntut respons kebijakan yang cepat dan tepat dari pemerintah untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah dan melindungi daya beli masyarakat dari ancaman inflasi yang kian nyata.

