Chapnews.id – Gelombang kepanikan melanda warga di wilayah Kodi, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,1 mengguncang kawasan tersebut pada Minggu pagi. Getaran hebat yang terjadi secara tiba-tiba ini tidak hanya menyebabkan kerusakan pada bangunan, tetapi juga menimbulkan korban luka di tengah masyarakat.
Berdasarkan laporan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bencana alam ini terjadi sekitar pukul 05.55 WIB. Pusat gempa terdeteksi berada pada koordinat 9,68 LS – 118,96 BT, dengan titik pusat gempa berada di darat, tepatnya sekitar 10 kilometer ke arah selatan dari wilayah Kodi. Kedalaman gempa yang tergolong dangkal, yakni hanya 14 kilometer, membuat guncangan yang dirasakan warga menjadi sangat kuat dan destruktif.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengonfirmasi bahwa dampak kerusakan mulai terlihat di beberapa titik pemukiman dan fasilitas umum. Salah satu dampak yang paling mencolok adalah kerusakan pada fasilitas pendidikan di wilayah Perokonda. Sebuah sekolah, yakni SD Islam, dilaporkan mengalami kerusakan bangunan akibat guncangan tersebut. Selain fasilitas sekolah, dua unit rumah milik warga juga tidak luput dari dampak kerusakan yang dikategorikan dalam tingkat sedang.
Tidak hanya kerusakan materi, dampak manusia juga dilaporkan. Teguh Rahayu menyebutkan bahwa terdapat satu orang warga yang mengalami luka-luka akibat peristiwa ini. Meski luka yang dialami dikategorikan sebagai luka ringan, kejadian ini menambah daftar keprihatinan warga yang sedang beraktivitas di pagi hari.
Secara teknis, kekuatan guncangan yang dirasakan masyarakat berada pada skala IV hingga VI Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada skala IV MMI, getaran biasanya dirasakan oleh banyak orang yang berada di dalam maupun di luar ruangan, ditandai dengan suara pintu atau jendela yang berderik serta pecahnya benda-benda pecah belah seperti gerabah. Namun, pada titik yang mencapai skala VI MMI, situasi menjadi jauh lebih mencekam. Seluruh penduduk merasakan getaran yang sangat kuat, menyebabkan banyak warga panik dan berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Pada skala ini, plester dinding bangunan seringkali mulai berjatuhan.
Hingga berita ini diturunkan, rangkaian gempa susulan dengan magnitudo yang lebih kecil masih terus terjadi di wilayah Sumba. Fenomena gempa susulan ini membuat warga masih merasa waswas dan memilih untuk tetap berada di ruang terbuka guna mengantisipasi adanya guncangan susulan yang lebih besar. Pihak berwenang terus memantau perkembangan situasi di lapangan untuk memastikan keselamatan warga dan melakukan pendataan kerusakan secara menyeluruh. Informasi lebih lanjut mengenai total kerugian dan kondisi terkini warga dapat dipantau melalui kanal resmi chapnews.id.


