Ads - After Header

Gunung Slamet ‘Batuk-Batuk’: Gempa Melonjak, Waspada!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Nasional – Gunung Slamet kembali menunjukkan geliat aktivitas kegempaan yang meningkat tajam, memicu kewaspadaan di kalangan warga sekitar. Meski statusnya masih berada di Level II (Waspada), lonjakan frekuensi dan kekuatan gempa dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius. Masyarakat diimbau keras untuk mematuhi batas aman yang telah ditetapkan demi keselamatan.

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang dikutip oleh chapnews.id, gunung tertinggi di Jawa Tengah ini mencatatkan peningkatan aktivitas yang signifikan. Jika pada Senin (20/4) hanya terdeteksi 7 gempa embusan dan 17 gempa low frekuensi, angka tersebut melonjak drastis sehari kemudian, Selasa (21/4), menjadi 72 gempa embusan dan 60 gempa low frekuensi.

Gunung Slamet 'Batuk-Batuk': Gempa Melonjak, Waspada!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Peningkatan ini tidak hanya pada frekuensi, namun juga pada intensitas dan durasi. Amplitudo gempa embusan kini mencapai 3-6 mm dengan durasi hingga 58 detik, lebih panjang dari sebelumnya yang berkisar 30-40 detik. Gempa low frekuensi juga menunjukkan durasi yang lebih lama, mencapai 29 detik. Selain itu, tremor menerus atau microtremor ikut menguat, dengan amplitudo dominan naik dari 0,5 mm pada 20 April menjadi 1 mm, bahkan sempat menyentuh 1,5 mm pada 21 April.

Laporan visual dari PVMBG pada Selasa (21/4) juga mengindikasikan adanya asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal, membubung sekitar 50-100 meter dari puncak. Kondisi cuaca di sekitar gunung terpantau cerah hingga hujan, dengan angin bertiup lemah hingga kencang ke berbagai arah.

Menanggapi kondisi ini, Supervisor Site Gunung Slamet Perhutani Alam Wisata Wilayah Barat, Sugeng Utomo, dalam keterangannya baru-baru ini, menegaskan bahwa peningkatan kegempaan ini merupakan indikator penting pergerakan magma di dalam tubuh gunung. "Secara umum kami mengimbau masyarakat agar selalu mematuhi batas aman 3 kilometer dari kawah puncak dan tetap waspada," tegas Sugeng.

Empat kecamatan di Kabupaten Banyumas yang paling dekat dengan puncak Gunung Slamet, yakni Baturraden, Sumbang, Kedungbanteng, dan Cilongok, menjadi fokus pemantauan ketat.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan Sukma, menambahkan bahwa suhu kawah Gunung Slamet juga mengalami kenaikan signifikan, dari 461°C menjadi 478°C pada Sabtu (18/4). "Kondisi ini menjadi perhatian serius. Meskipun untuk wilayah Banyumas bagian selatan saat ini masih dalam kategori relatif aman, kami tetap meningkatkan kewaspadaan dan terus memantau indikator vulkanik lainnya," ujar Dwi.

Untuk menyinkronkan langkah mitigasi, BPBD Banyumas berencana menggelar rapat koordinasi lintas wilayah pada Kamis (23/4). Pertemuan ini akan melibatkan perwakilan BPBD dari Purbalingga, Pemalang, Tegal, Brebes, serta pihak Badan Geologi. "Fokus utama rakor adalah sinkronisasi langkah mitigasi dan penguatan jalur koordinasi darurat jika aktivitas gunung meningkat ke level yang lebih mengkhawatirkan," jelas Dwi.

Meskipun demikian, Dwi memastikan bahwa sektor pariwisata di kawasan Baturraden, yang berada di kaki gunung Slamet, hingga saat ini masih beroperasi normal. "Kegiatan wisata di kawasan Baturraden masih dinilai aman karena jaraknya cukup jauh dari kawah puncak. Namun, kami meminta masyarakat dan pengunjung tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dan tidak mudah termakan isu yang belum terverifikasi," pungkasnya. Masyarakat diimbau untuk selalu merujuk pada informasi resmi dari PVMBG dan pemerintah daerah setempat.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer