Ads - After Header

Jangan Kaget! PKL SMK Wajib Belajar, Ini Kata Mendikdasmen!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Nasional – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, baru-baru ini mengeluarkan imbauan tegas agar pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak dijadikan alasan untuk menghentikan proses pembelajaran. Mu’ti menekankan pentingnya menjaga kesinambungan pendidikan, bahkan ketika siswa sedang menimba pengalaman di dunia kerja nyata.

"Pembelajaran tidak berhenti ketika anak-anak kita melaksanakan PKL. Justru pengalaman di dunia kerja harus menjadi bagian dari proses pembelajaran," ujar Mu’ti dalam keterangannya. Ia menggarisbawahi bahwa PKL merupakan kesempatan berharga bagi siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh di bangku sekolah dalam situasi kerja yang sesungguhnya.

Jangan Kaget! PKL SMK Wajib Belajar, Ini Kata Mendikdasmen!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Lebih dari sekadar keterampilan teknis, Mu’ti menambahkan, PKL juga berperan membentuk karakter siswa. Mereka belajar mengenai disiplin, tanggung jawab, komunikasi profesional, budaya kerja, keselamatan kerja, hingga memahami tuntutan kompetensi yang ada di dunia usaha dan dunia industri.

Untuk memastikan pembelajaran tetap berjalan efektif, Mendikdasmen mendorong penerapan model pembelajaran yang fleksibel, salah satunya melalui pendekatan asinkron. Dengan model ini, siswa dapat mengakses materi dan menyelesaikan tugas secara mandiri, menyesuaikan dengan jadwal PKL mereka tanpa harus terikat waktu pembelajaran tatap muka yang sama dengan guru.

Kendati demikian, pengalaman di lapangan harus tetap diimbangi dengan penguatan kemampuan dasar. Literasi dan numerasi menjadi dua kemampuan fundamental yang wajib terus dikembangkan selama siswa menjalani PKL. "Literasi dan numerasi merupakan kemampuan fundamental. Keduanya diperlukan bukan hanya untuk kepentingan akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja," tegas Mu’ti.

Dalam konteks PKL, kemampuan literasi sangat krusial saat siswa membaca prosedur kerja, memahami petunjuk penggunaan peralatan, menafsirkan informasi teknis, menyusun laporan, mengisi formulir, hingga berkomunikasi efektif dengan pembimbing dan rekan kerja. Sementara itu, numerasi dibutuhkan dalam berbagai aktivitas pekerjaan, seperti menghitung kebutuhan bahan, menentukan ukuran, membaca tabel dan grafik, menghitung waktu pengerjaan, memperkirakan biaya, hingga membandingkan hasil pekerjaan.

Penguatan literasi dan numerasi ini tidak semata-mata diarahkan untuk meningkatkan nilai mata pelajaran, melainkan sebagai fondasi bagi siswa untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, mengambil keputusan, serta bekerja secara efektif.

Kebutuhan akan penguatan ini juga tercermin dari hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMK Tahun 2025. Berdasarkan Surat Edaran Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Nomor 4021/B/D2/DV.00.01/2026, rerata capaian siswa pada Matematika tercatat 34,84, Bahasa Inggris 22,69, dan Bahasa Indonesia 53,68. Data ini menunjukkan masih perlunya peningkatan kompetensi akademik siswa SMK.

Mu’ti menyadari bahwa ada tantangan dalam memastikan dukungan pembelajaran tetap tersedia mengingat kondisi siswa yang beragam, mulai dari jadwal kerja, lokasi PKL, akses internet, ketersediaan perangkat, hingga pola pendampingan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembelajaran asinkron menjadi pilihan yang lebih adaptif. Guru dapat menyediakan materi dalam bentuk video pembelajaran, modul ringkas, lembar kerja, kuis, tugas pemecahan masalah, maupun jurnal refleksi yang dapat dikerjakan siswa sesuai waktu yang tersedia.

"Fleksibilitas bukan berarti tanpa arahan. Guru tetap memiliki peran penting dalam menetapkan tujuan pembelajaran, memberikan instruksi, memantau perkembangan, dan memberikan umpan balik kepada murid," jelas Mu’ti.

Melalui pendekatan pembelajaran asinkron ini, pemerintah berharap proses pendidikan siswa kelas XII tetap berlangsung optimal selama PKL. Penguatan literasi dan numerasi diharapkan tidak hanya membantu siswa menghadapi asesmen, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan yang relevan untuk melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, maupun menjalani kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, PKL dan pembelajaran akademik tidak lagi dipandang sebagai dua kegiatan yang saling berlawanan, melainkan dapat berjalan seiring untuk membentuk lulusan SMK yang memiliki keterampilan kerja sekaligus kemampuan berpikir dan bernalar yang kuat.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer