Ads - After Header

Pati Gempar! Jari Siswa Putus Akibat Perundungan Brutal

Ahmad Dewatara

Chapnews – Nasional – Dunia pendidikan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan publik setelah seorang siswa kelas 7 Madrasah Tsanawiyah (MTS) di Kecamatan Margorejo diduga kuat menjadi korban perundungan (bullying) oleh kakak kelasnya. Insiden tragis ini berujung pada putusnya dua jari tangan kiri korban, memicu keprihatinan mendalam di masyarakat. Dugaan awal menyebutkan aksi perundungan ini bermula dari masalah saling ejek nama orang tua.

Catur Andi Cahyanto, kuasa hukum korban dari LBH Garda Muda Nusantara Cabang Pati, mengungkapkan bahwa kasus memilukan ini telah resmi dilaporkan ke aparat penegak hukum pada Sabtu (1/8).

Pati Gempar! Jari Siswa Putus Akibat Perundungan Brutal
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Menurut Catur, insiden tragis itu terjadi pada Senin (27/6) lalu, usai pelaksanaan salat Zuhur di lingkungan MTS tersebut. "Setelah salat itu ada tenggang waktu 15 menit untuk istirahat," jelas Catur kepada wartawan saat ditemui di Polresta Pati, seperti dikutip dari chapnews.id, Minggu (2/8).

Kronologi kejadian bermula ketika korban dan tiga terduga pelaku, yang merupakan kakak kelasnya, terlibat dalam saling ejek nama orang tua. Situasi memanas dan berujung pada penganiayaan fisik terhadap korban. Korban sempat berusaha menyelamatkan diri dengan berlari ke dalam kelas, namun penganiayaan tak berhenti.

Dalam keputusasaan, korban berupaya memanjat pagar besi setinggi sekitar 2 meter yang berdekatan dengan kamar mandi dan tempat wudu. Namun, di lokasi tersebut, ia kembali dianiaya dan bahkan disiram air. Saat mencoba turun dari pagar, tangan kirinya nahas terjepit di antara struktur kayu dan besi, mengakibatkan dua jarinya putus dan satu jari lainnya retak.

Lebih mengejutkan lagi, Catur mengungkapkan bahwa satu jari korban yang putus sempat tertinggal di pagar. Mirisnya, pihak guru MTS setempat justru memerintahkan siswa lain untuk menguburkan potongan jari tersebut di lingkungan sekolah, alih-alih mengamankannya untuk kemungkinan tindakan medis.

Kondisi korban kini dilaporkan stabil setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Upaya penyambungan jari yang putus sempat dilakukan, bahkan hingga dibawa ke Solo, namun gagal karena kondisi jari yang sudah terinfeksi setelah terkubur di tanah. Korban juga telah mendatangi Polresta Pati untuk menjalani pemeriksaan keterangan lebih lanjut.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan pernyataan resmi terkait perkembangan kasus ini. Kasat Reskrim Polresta Pati, Kompol Dika Hadian Widya, saat dihubungi sedang berada di luar kota.

Di sisi lain, Kepala MTS, Safi’i, sebelumnya membantah adanya aksi bullying dalam insiden ini. Ia menyatakan bahwa kejadian tersebut murni insiden atau kecelakaan tanpa adanya unsur kesengajaan atau perundungan. "Menyatakan kejadian yang ada bahwa sebetulnya murni dari insiden atau kecelakaan yang tidak ada unsur kesengajaan atau pembullyan," kata Safi’i kepada wartawan di MTS wilayah Margorejo, Sabtu (1/8). Pernyataan ini tentu bertolak belakang dengan klaim pihak korban dan kuasa hukumnya, menambah kompleksitas dalam pengungkapan kebenaran kasus ini.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer