Chapnews – Ekonomi – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) secara agresif mendorong peningkatan pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pendukung (co-firing) di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Langkah ini merupakan bagian integral dari upaya diversifikasi energi dan percepatan transisi energi nasional, dengan fokus pada optimalisasi potensi biomassa domestik secara berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai ekonomi signifikan bagi masyarakat.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis lalu, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki cadangan biomassa yang melimpah namun belum sepenuhnya termanfaatkan. Pemanfaatan biomassa oleh PLN pada tahun sebelumnya mencapai sekitar 2,5 juta ton. Untuk tahun ini, PLN EPI menargetkan peningkatan signifikan hingga sekitar 3,4 juta ton.

"Tahun lalu kami baru mencapai sekitar 2,5 juta ton. Tahun ini, kami berambisi untuk menyediakan sekitar 3,4 juta ton biomassa bagi seluruh unit perusahaan kami," jelas Hokkop, menegaskan komitmen PLN EPI dalam mendukung bauran energi hijau.
Menurut Hokkop, potensi pengembangan biomassa di tingkat nasional masih sangat luas. Data yang dikumpulkan PLN EPI bersama para pelaku industri menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi biomassa dari sektor industri mencapai sekitar 80 juta ton per tahun. Dari angka tersebut, sekitar 20 juta ton telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, menyisakan potensi besar yang masih bisa digarap.
Meskipun PLN baru memanfaatkan sekitar 2,5 juta ton biomassa untuk program co-firing PLTU, jumlah ini menempatkan perusahaan sebagai pengguna biomassa terbesar untuk co-firing di Asia. "Meski hanya 2,5 juta ton untuk PLN, kami bangga menjadi perusahaan terbesar di Asia yang berhasil mengimplementasikan biomassa untuk co-firing," ungkap Hokkop.
Biomassa Berkelanjutan: Komitmen Anti-Deforestasi
Hokkop menekankan bahwa peningkatan pemanfaatan biomassa harus selaras dengan prinsip keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab. Sekitar 70 persen biomassa yang digunakan PLN berasal dari residu, termasuk sisa-sisa industri kehutanan, industri kertas, serta sektor agro.
Pendekatan ini memastikan bahwa biomassa tidak hanya berfungsi sebagai substitusi parsial batu bara, tetapi juga meningkatkan nilai guna material yang sebelumnya dianggap limbah. PLN EPI juga menerapkan evaluasi ketat terhadap sumber biomassa melalui pendekatan Life Cycle Assessment (LCA). Evaluasi ini krusial untuk menjamin rantai pasok biomassa memenuhi standar keberlanjutan dan, yang terpenting, tidak mendorong praktik deforestasi.
"Kami telah melakukan kalkulasi mendalam menggunakan LCA. Kami hanya bermitra dengan pihak yang mampu menyediakan data lengkap mengenai sumber biomassa mereka. Kami tegas menyatakan anti deforestasi," pungkas Hokkop, menegaskan komitmen PLN EPI terhadap transisi energi yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan.


