Chapnews – Nasional – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, kembali menggaungkan seruan "Jaga Jakarta" sebagai inti perayaan Idulfitri 1447 Hijriah. Pesan ini, yang kerap ia sampaikan dalam berbagai kegiatan keagamaan, kembali ditekankan usai pelaksanaan salat Id di halaman Balai Kota DKI Jakarta pada Sabtu (21/3) pagi. Menurut laporan dari chapnews.id, penekanan pada stabilitas dan kebersamaan menjadi sorotan utama dalam momentum sakral ini.
Pramono Anung berharap agar ibu kota tetap kokoh dan stabil di tengah gejolak global yang tidak menentu. "Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian kita semua dalam menjaga Jakarta, meskipun dunia sedang menghadapi tantangan, kami optimis Jakarta akan senantiasa dalam keadaan baik-baik saja," ujar Gubernur, menyiratkan doa dan harapan bagi kota metropolitan ini.

Salat Idulfitri di Balai Kota DKI Jakarta dihadiri oleh sekitar 2.000 jemaah, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN) serta warga dari Kebon Sirih dan sekitarnya. Bertindak sebagai khatib adalah Wakil Presiden ke-13 RI, K.H. Ma’ruf Amin, yang memimpin jalannya ibadah dengan khidmat. Salat dimulai tepat pukul 06.30 WIB, dengan khotbah yang disampaikan oleh K.H. Ma’ruf Amin berlangsung dari pukul 06.50 WIB hingga 07.11 WIB.
Selain Gubernur Pramono Anung, sejumlah pejabat tinggi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut hadir memadati area salat Id. Di antaranya adalah Wakil Gubernur Rano Karno, Sekretaris Daerah Uus Kuswanto, serta beberapa mantan pejabat yang turut meramaikan suasana Idulfitri.
Dalam khotbahnya, K.H. Ma’ruf Amin menyoroti pentingnya bulan Ramadhan sebagai fondasi untuk membangun solidaritas ekonomi umat. "Hadirin sekalian, Ramadhan tidak hanya berfokus pada pembangunan spiritualitas pribadi, namun juga menjadi momentum krusial untuk memperkuat solidaritas ekonomi di antara umat," tegas K.H. Ma’ruf Amin di hadapan ribuan jemaah.
Tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU) tersebut menjelaskan bahwa manifestasi solidaritas ekonomi ini terlihat jelas melalui pelaksanaan zakat, penggalangan infak, dan pembagian sedekah sepanjang bulan suci. "Sepanjang bulan ini, kita menyaksikan bagaimana zakat ditunaikan, infak digerakkan, dan sedekah dibagikan. Ini adalah bukti nyata bahwa Islam tidak hanya mengedepankan kesalehan ritual, tetapi juga sangat menekankan kesalehan sosial," pungkasnya, menggarisbawahi dimensi sosial ajaran Islam.


