TERKINI: 4 Kabupaten Jateng Berjuang Lawan Amukan Api!
Chapnews – Nasional – Tim gabungan dari berbagai instansi di empat kabupaten di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) masih berjibaku tanpa henti memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa insiden karhutla intensif terjadi di wilayah Kabupaten Klaten, Grobogan, Blora, dan Wonogiri, memaksa petugas bekerja ekstra keras di tengah musim kemarau.

Menurut laporan yang disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, salah satu titik api terbaru muncul di Kabupaten Klaten pada Senin (27/7). Kebakaran seluas satu hektare area persawahan di Dukuh Srimulyo, Desa Kaligawe, Kecamatan Pedan, diduga kuat dipicu oleh aktivitas pembakaran sampah yang tidak terkendali oleh warga. Berkat respons cepat dari BPBD dan Damkar setempat, api berhasil dipadamkan secara manual sebelum menjalar lebih jauh.
Tak hanya Klaten, Kabupaten Grobogan juga menjadi medan perjuangan tim gabungan. Mereka harus berjibaku memadamkan api yang melahap lahan seluas 3,4 hektare di Desa Prigi, Kecamatan Kedungjati, dan Desa Kaliwenang, Kecamatan Tanggungharjo. Insiden ini, yang bermula dari pembakaran serasah bekas panen jagung pada Senin (27/7) siang, direspons sigap oleh BPBD Grobogan dengan membuat sekat bakar untuk mencegah perambatan api.
Dinamika karhutla di Jawa Tengah juga melibatkan penanganan intensif di lahan tebu Kabupaten Blora dan Wonogiri, yang masing-masing membakar satu hektare lahan. Peristiwa kebakaran lahan di Blora ini bukan kali pertama terjadi selama bulan Juli. BNPB mencatat, pada Rabu (22/7) lalu, api sempat menghanguskan lahan seluas tiga hektare di dua lokasi terpisah: lahan tebu di Desa Kalangan, Kecamatan Tunjungan, dan rumpun bambu di Desa Kebonrejo, Kecamatan Banjarejo, yang baru berhasil dipadamkan sepenuhnya pada Kamis (23/7).
Abdul Muhari menegaskan bahwa rentetan peristiwa ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah, termasuk Jawa Tengah, untuk memiliki kesiapsiagaan penuh. Minimnya curah hujan selama musim kemarau ini sangat memperbesar potensi kemunculan titik api baru yang harus direspons cepat dan terkoordinasi. Kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalisir dampak buruk karhutla yang mengancam lingkungan dan kehidupan masyarakat.


