Chapnews – Ekonomi – Meskipun status pasar modal Indonesia sebagai ‘emerging market’ berhasil dipertahankan oleh penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI), sebuah ancaman serius membayangi. Indonesia berpotensi terdegradasi menjadi ‘frontier market’ jika perbaikan transparansi dan kualitas pasar tidak menunjukkan kemajuan signifikan hingga November 2026.
Peringatan ini terungkap dalam laporan MSCI 2026 Market Classification Review yang dirilis pada Selasa, 23 Juni 2026. Dalam tinjauannya, MSCI secara spesifik menyoroti dua aspek krusial: transparansi kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi di pasar modal Tanah Air.

Investor institusi internasional masih menyuarakan kekhawatiran mendalam. Mereka menilai bahwa kedua isu tersebut menghambat kemampuan mereka dalam mengevaluasi besaran saham beredar (free float) yang sesungguhnya, sekaligus mengikis kepercayaan terhadap harga pasar sebagai indikator investasi yang valid. MSCI bahkan menyatakan bahwa mereka membuka kemungkinan konsultasi lebih lanjut mengenai status pasar Indonesia dan Turki, apabila tidak ada kemajuan kredibel yang terlihat dalam penanganan isu-isu tersebut.
Di sisi lain, MSCI juga mengakui serangkaian reformasi yang baru-baru ini diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Langkah-langkah ini mencakup peningkatan keterbukaan bagi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen, klasifikasi investor yang lebih rinci, penerapan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), serta peta jalan untuk meningkatkan ketentuan minimum free float menjadi 15 persen.
Namun, MSCI menegaskan bahwa pengumuman kebijakan saja tidaklah cukup. Lembaga tersebut menekankan pentingnya implementasi yang konsisten dan dampak nyata yang berkelanjutan dari langkah-langkah reformasi tersebut di seluruh pasar. Investor internasional akan mengamati sejauh mana kebijakan ini mampu meningkatkan kualitas dan integritas pasar modal Indonesia secara signifikan. "Bagi investor institusi global, yang terpenting adalah implementasi yang konsisten dan dampak berkelanjutan dari langkah-langkah tersebut di seluruh pasar," tulis MSCI, sebagaimana dikutip oleh chapnews.id.


