Chapnews – Nasional – Yogyakarta – Raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, baru-baru ini terjerat dalam skema penipuan canggih yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Sebuah video rekayasa atau ‘deepfake’ yang menampilkan visual dan suara Sultan HB X secara meyakinkan, kini tersebar masif melalui aplikasi pesan WhatsApp, disinyalir kuat sebagai modus operandi untuk menipu masyarakat.
Insiden penyalahgunaan AI ini terkuak setelah akun media sosial resmi Pemerintah Daerah DIY membeberkan keberadaan video palsu tersebut pada Rabu (22/7) siang. Konten video tersebut, menurut keterangan resmi, berisi narasi yang mengarahkan seseorang untuk melakukan pembayaran atas suatu barang sebelum barang tersebut dikirim, bahkan secara spesifik menyebut nama individu tertentu. Modus ini jelas mengindikasikan upaya penipuan yang terstruktur.

Menurut keterangan Pranata Humas Ahli Madya Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY, Ditya Nanaryo Aji, investigasi dimulai setelah GKR Condrokirono, salah satu putri Sultan HB X, melaporkan keberadaan video mencurigakan tersebut. Tim humas Pemda DIY segera diminta untuk memastikan keaslian video yang beredar.
"Hasil pengecekan kami secara menyeluruh menunjukkan bahwa video tersebut sama sekali tidak berasal dari dokumentasi Humas Pemerintah Daerah DIY. Baik dari segi isi maupun cara penyampaiannya, kami dapat memastikan bahwa itu merupakan video hasil rekayasa menggunakan teknologi AI," tegas Ditya pada Rabu (22/7) kepada chapnews.id.
Ditya lebih lanjut menjelaskan bahwa narasi dalam video tersebut menyentuh ranah pribadi seseorang, sebuah topik yang selama ini tidak pernah disampaikan oleh Sri Sultan dalam komunikasi resmi maupun wawancara publik. Hal ini menjadi salah satu bukti kuat bagi Diskominfo bahwa konten tersebut bukanlah pernyataan asli dari Sultan. "Selama kami mendampingi kegiatan kehumasan, Ngarsa Dalem tidak pernah menyampaikan pernyataan yang masuk ke ranah pribadi seseorang seperti yang tergambar dalam video tersebut. Oleh karena itu, kami dapat memastikan bahwa konten tersebut bukan pernyataan beliau," imbuhnya.
Pihak Pemda DIY hingga saat ini belum membahas langkah hukum terkait temuan deepfake ini. Fokus utama yang sedang digalakkan adalah meningkatkan literasi digital masyarakat agar semakin mampu mengenali dan mengantisipasi penyalahgunaan teknologi AI yang berpotensi besar dimanfaatkan untuk penipuan maupun penyebaran informasi palsu.
"Kami ingin masyarakat semakin menyadari bahwa teknologi AI dapat disalahgunakan untuk menciptakan konten yang tampak sangat meyakinkan, bahkan sulit dibedakan dari aslinya. Oleh karena itu, setiap kali menerima video atau informasi yang mengatasnamakan Pemda DIY maupun Bapak Gubernur, sangat penting untuk memastikan terlebih dahulu sumbernya yang kredibel sebelum mempercayai atau bahkan menyebarkannya," pungkas Ditya, menekankan pentingnya verifikasi informasi di era digital ini.


