Chapnews – Nasional – Kebakaran hebat kembali melanda kawasan Hutan Lindung Gambut Londerang di Provinsi Jambi. Kobaran api yang melahap vegetasi di lahan gambut yang kering kerontang ini menimbulkan kekhawatiran serius akan dampak lingkungan, kesehatan, dan ekonomi bagi masyarakat sekitar serta ekosistem global.
Petugas gabungan dari Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan relawan masyarakat setempat berjibaku tanpa henti untuk memadamkan api. Tantangan utama dalam upaya pemadaman adalah kondisi lahan gambut yang sangat kering akibat musim kemarau panjang, membuat api mudah menjalar dan membakar hingga ke lapisan bawah tanah, yang dikenal sebagai kebakaran bawah permukaan (sub-surface fire) yang sulit dikendalikan.

Asap tebal yang mengepul dari lokasi kebakaran mulai menyelimuti beberapa wilayah sekitar, memicu kekhawatiran akan gangguan pernapasan dan masalah kesehatan lainnya bagi warga. Lebih dari itu, kerusakan ekosistem gambut yang merupakan penyimpan karbon alami terbesar di dunia menjadi sorotan. Kebakaran ini tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca, memperburuk krisis iklim global.
Pemerintah daerah melalui BPBD Jambi telah menetapkan status siaga darurat dan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi dampak kabut asap. Dugaan sementara, kebakaran ini dipicu oleh aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkontrol oleh oknum tak bertanggung jawab, meskipun penyelidikan lebih lanjut masih terus dilakukan untuk memastikan penyebab pastinya. Insiden ini menjadi pengingat pahit akan kerapuhan ekosistem gambut dan pentingnya upaya pencegahan yang lebih masif.
Peristiwa terbakarnya Hutan Lindung Gambut Londerang bukan kali pertama terjadi, menyoroti urgensi penegakan hukum yang tegas dan edukasi berkelanjutan bagi masyarakat terkait pengelolaan lahan yang bertanggung jawab. chapnews.id mencatat, upaya restorasi gambut dan patroli pencegahan kebakaran harus lebih diintensifkan secara sinergis oleh semua pihak demi menjaga paru-paru dunia ini dari ancaman api yang terus mengintai setiap musim kemarau tiba.

