Chapnews – Nasional – Pemantauan hilal 1 Syawal 1447 Hijriah untuk menentukan Hari Raya Idulfitri dilaporkan tidak berhasil di 43 titik di Jawa Timur dan juga di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi ini mengindikasikan kemungkinan bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari, dengan Idulfitri diprediksi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menyatakan bahwa hilal tidak terlihat di seluruh lokasi pemantauan yang tersebar di provinsi tersebut. Ketua LFNU PWNU Jatim, Syamsul Ma’arif, menjelaskan bahwa secara astronomis, posisi hilal masih di bawah kriteria yang ditetapkan untuk visibilitas.

"Dari 43 titik lokasi rukyat di Jawa Timur, tidak ada yang berhasil melihat hilal sama sekali," kata Syamsul saat dikonfirmasi chapnews.id, Kamis (19/3).
Ia merinci dua faktor utama kegagalan ini: pertama, tinggi hilal dan sudut elongasi yang belum mencapai standar minimal Imkanur Rukyat MABIMS, yaitu 3 derajat hilal dengan elongasi 6,4 derajat; kedua, kendala cuaca mendung yang menyelimuti banyak titik lokasi pemantauan. Data hasil rukyatul hilal dari Jawa Timur ini sudah diteruskan secara berjenjang ke PBNU dan akan menjadi bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat Kementerian Agama RI.
Situasi serupa terjadi di Kupang, NTT. Proses pengamatan hilal yang sedianya berlangsung di Kantor Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kupang gagal total akibat hujan dan mendung sepanjang hari Kamis (19/3). Meskipun sejumlah pejabat, ahli astronomi, dan akademisi telah berkumpul sejak pukul 17.00 WITA, alat pengamatan tidak dapat dipasang. Pengamatan mata telanjang pun tidak membuahkan hasil karena hilal masih tertutup awan hingga pukul 18.00 WITA, bertepatan dengan momen matahari terbenam.
Koordinator Bidang Geopotensial dan Tanda Tangan Waktu Stasiun Geofisika Kupang, Tri Umaryadi Wibowo, menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan, tinggi hilal hanya 1,226 derajat di atas ufuk. Sementara itu, elongasi atau jarak sudut antara Matahari dan Bulan tercatat sebesar 4,55 derajat, dengan fraksi iluminasi Bulan hanya 0,16 persen. Angka-angka ini jauh di bawah kriteria visibilitas hilal yang disepakati.
Dengan tidak terlihatnya hilal di kedua wilayah ini, prediksi kuat mengarah pada penggenapan bulan Ramadan menjadi 30 hari atau istikmal. Artinya, 1 Syawal atau Hari Raya Idulfitri diperkirakan akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Namun, Syamsul Ma’arif menekankan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan Kementerian Agama setelah mempertimbangkan seluruh laporan rukyatul hilal dari berbagai wilayah di Indonesia. "Jika Aceh memang tidak berhasil [melihat hilal], maka dimungkinkan umur bulan Ramadan genap 30 hari. Artinya 1 Syawal diperkirakan tanggal 1 hari Sabtu, tanggal 21 Maret," ujarnya.
Pemerintah, melalui Kementerian Agama, akan mengumumkan secara resmi Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah setelah Sidang Isbat yang dijadwalkan sore hingga malam hari ini. Meskipun demikian, sinyal kuat dari Jawa Timur dan NTT telah memberikan gambaran awal mengenai penetapan Idulfitri.


